Vaksin Astrazeneca, 6 Efek Samping Ini Butuh Penanganan Medis Cepat!

Fatwa tersebut ditetapkan melalui nomor 14 tahun 2021 tentang Hukum Penggunaan Vaksin COVID-19 Produk AstraZeneca. EMA juga menekankan bahwa tidak ada permasalahan terkait kualitas vaksin COVID-19 AstraZeneca secara menyeluruh ataupun dengan bets tertentu. dArtinya, risiko yang ditimbulkan vaksin Sinovac sangat kecil, dibandingkan manfaatnya yang dapat menimbulkan herd immunity . “Sesampainya di RS, pihak RS sempat nolak karena vaksin. RS sempat menolak dan mereka menyarankan agar dibawa ke RS besar. Tapi akhirnya tetapi ditangani dan diperiksa dan adik saya dinyatakan meninggal sekitar pukul 12.30 WIB,” ucap dia. Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair dan Maroko dan banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah telah menyatakan sikap bahwa vaksin ini diperbolehkan untuk digunakan oleh para Muslim.

Hal ini juga terjadi pada vaksin lain, ANSM mengatakan mereka juga melihat efek samping dari vaksin Pfizer-BioNTech, setelah enam kasus baru pankreatitis akut , termasuk satu kematian, dilaporkan sehubungan dengan suntikan dari April. Vaksin AstraZeneca telah terbukti efektif bagi masyarakat berumur 18 tahun ke atas, termasuk kalangan lanjut usia berusia 60 tahun ke atas. Namun saat ini banyak negara, termasuk Indonesia, membuat daftar prioritas vaksin karena jumlah vaksin yang terbatas. Negara-negara ini mengacu pada WHO Prioritization Roadmap dan WHO Values Framework untuk mengadakan vaksinasi sesuai dengan prioritas. Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah banyak membuat hal baru di dunia.

Apakah vaksin Astrazeneca berbahaya

“Dasar selanjutnya, ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dalam rangka ikhtiar mewujudkan kekebalan kelompok. Lalu adanya jaminan keamanan penggunaannya oleh pemerintah, serta pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia,” jelas KH. Asrorun Niam Sholeh seraya menyebutkan bahwa itu semua tertuang di dalam Fatwa MUI Nomor 14 tahun 2021 tentang Hukum Penggunaan vaksin COVID-19 produk AstraZeneca.

Itulah kenapa WHO mati-matian menyakinkan manfaat dari AstraZeneca melebihi resikonya. Mereka tidak menyangkal resikonya, tetapi vaksinasi sulit untuk dihentikan. Di Jerman, misalnya, sekitar 55% orang Jerman mengatakan vaksin AstraZeneca tidak aman.

Tidak hanya itu, ada jaminan keamanan penggunaan vaksin AstraZeneca dari pemerintah, dalam hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Kementerian Kesehatan sehingga vaksin AstraZeneca dapat terjamin keamanannya. Beberapa dokter memaparkan bahwa sejak vaksinasi digaungkan dengan menyuntikkan vaksin bagi orang-orang yang paling rentan. Mereka yang sudah disuntik memang cenderung sudah memiliki masalah kesehatan. Sehingga, sulit untuk menentukan apakah vaksin itu yang bertanggung jawab atau tidak.

Selain itu, 6 kasus pembekuan darah juga dilaporkan setelah suntikan kedua vaksin AstraZeneca. Karena itu, vaksin AstraZeneca tidak lagi diperuntukkan bagi orang usia forty tahun ke bawah. Pihaknya memberikan saran tersebut, karena sesuai kondisi Inggris yang sedang menghadapi lonjakan karena varian baru virus corona kala itu. Secara terpisah Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengemukakan pernyataan yang sama. “WHO menyatakan bahwa vaksin AstraZeneca aman dan efektif untuk melindungi orang dari risiko Covid-19 yang sangat serius, termasuk kematian, rawat inap, dan penyakit parah,” katanya.

BPOM juga berkomunikasi dengan WHO dan Badan Otoritas Obat negara lain dan mendapatkan hasil investigasi dan kajian yang lengkap serta terkini terkait keamanan vaksin COVID-19 AstraZeneca. Sebelum digunakan, vaksin COVID-19 AstraZeneca telah melalui serangkai pemeriksaan dan penelitian oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan dan Majelis Ulama Indonesia . Proses ini dilakukan untuk memastikan keamanan, khasiat, mutu, dan izin penggunaan dari MUI. Selain itu, program vaksinasi yang dilakukan adiknya merupakan kebijakan dari perusahaan. ANSM mengatakan bahwa sejak dimulainya penggunaan vaksin AstraZeneca di Prancis, telah terjadi whole 30 kasus trombosis atipikal setelah vaksinasi, termasuk sembilan kematian. Indonesia telah resmi menggunakan vaksin AstraZeneca untuk program vaksinasi massal.

Kali ini mengenai vaksin Sinovac kadaluwarsa dan bahaya penggumpalan darah di balik vaksin AstraZeneca. Dalam hal kedaluwarsa, menurut Siti Nadia Tarmizi, batasan pada vaksin itu berbeda dari makanan atau obat pada umumnya. Maka, jika vaksin Sinovac yang disebut bahwa batas masa simpannya hanya sampai 25 Maret 2021 itu tidak lantas berarti larutan medis itu rusak dan tak terpakai per hari itu. “Kemarin atas kejadian ini orang Pegadaian terus datang ke rumah sampe dari pusat dan menjelaskan bahwa adik saya ada di anak perusahaan Pegadaian katanya,” ucap Viki. Akan tetapi, Viki menyebut pihak rumah sakit sempat menolak menangani adiknya itu. Hal itu setelah pihak keluarga memberi penjelasan almarhum mengalami demam dan kejang setelah divaksin.

Hasilnya, orang-orang di Prancis, Jerman, Spanyol dan Itali vaksin AstraZeneca cenderung dilihat tidak aman. Sementara di Inggris, tempat kelahiran vaksin ini, 77 persen respon menilai aman. Sementara, Indonesia mulai menggunakannya pada hari Senin setelah menangguhkannya minggu lalu.

Karena tingkat infeksi virus corona Covid-19 tak terkendali, pihaknya menyarankan orang dewasa usia 18 hingga 39 tahun tanpa riwayat penyakit serius untuk menerima suntikan vaksin AstraZeneca. Vaksin AstraZeneca telah mendapatkan rekomendasi dari Badan POM untuk digunakan dalam program vaksinasi Covid-19. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melanjutkan penggunaan vaksin tersebut dalam program vaksinasi Covid-19. Saat ini Vaksin Covid-19 AstraZeneca sudah memperoleh Emergency Use Listing dari WHO juga mendapatkan izin penggunaan darurat dari otoritas kesehatan di 70 negara di dunia, termasuk Indonesia. Vaksin AstraZeneca adalah vaksin hasil pengembangan perusahaan AstraZeneca dengan University of Oxford, Inggris. Vaksin ini mengandung virus yang telah dilemahkan untuk mengajari tubuh menghasilkan protein yang akan memicu respons sistem imun.