Akibat Salah Paham, Komunitas Muslim India Ragukan Vaksin Covid

Mendorong keterampilan numerik untuk memilah-milah informasi online bisa jadi sangat penting untuk mengekang ‘infodemik’ dan mempromosikan perilaku kesehatan masyarakat yang baik. Seperti diketahui, saat ini Indonesia juga tergabung dalam a hundred and seventy negara yang ikut serta dalam gerakan COVAX. Gerakan ini menjanjikan, vaksinasi bagi setidaknya 20 persen populasi penduduk di suatu negara dan mengakhiri fase akut dari pandemi dan membangun ekonomi. Robert Amler, dekan Fakultas Ilmu dan Praktik Kesehatan New York Medical College dan mantan kepala petugas medis CDC mengatakan banyak bukti menunjukkan bahwa vaksin telah menyebabkan pengurangan penyakit di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Adapun COVID-19 merupakan infeksi yang baru dan saat ini para ahli dan ilmuwan di dunia sedang melakukan riset untuk mencoba mengenali karakteristik virus penyebab COVID-19 yang digunakan sebagai dasar pengembangan vaksin.

Sejak beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat memang sedang berfokus mengembangkan vaksin Covid-19. “Kami pastikan, kami akan mendapat kesepakatan yang baik dalam pengembangan vaksin ini, dan kami ingin dunia juga mendukungnya. Beberapa perusahaan juga telah menunjukkan komitmen mereka,” tambahnya. Dalam artikel tersebut juga dijelaskan CDC belum memberikan rekomendasi apapun untuk vaksin dosis ketiga atau booster.

Beberapa konspirasi mengenai vaksin

Buku itu juga menjelaskan, bahwa cacar ketika itu diobati secara tradisional, dengan bahan alam dan mantra-mantra.

Menilik berbagai teori konspirasi yang terjadi di dunia, pemerintah RI diharapkan tetap fokus untuk mengejar target pemenuhan vaksin pada masyarakat dan menghindari kontroversi. Kementerian Kesehatan dan Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional pernah bikin survei soal vaksinasi pada September 2020. Survei dilakukan terhadap lebih dari 115 ribu responden di 34 provinsi dan 508 kabupaten/ kota. [newline]Hasilnya, sekitar sixty five persen responden bersedia menerima vaksin COVID-19 jika disediakan pemerintah; 8 persen menolak dan 27 persen menyatakan ragu atas rencana pemerintah mendistribusikan vaksin COVID-19.

Kecuali dia sendiri yg ngebuat virusnya wkwkwkwwkwkw,” kata Tirta melalui akun Twitternya. Secara singkat dia menjelaskan bahwa WHO memproduksi dan mendistribusikan vaksin lewat gerakan bernama COVAX. Gerakan ini dilakukan di bawah naungan dua organisasi kesehatan, GAVI dan CEPI. Dalam cuitannya, Tirta menyertakan bukti bahwa GAVI dibentuk Bill Gates melalui Gates Foundation. Kandidat vaksin hasil kolaborasi dengan kerja sama pihak luar negeri, di antaranya Bio Farma dengan Sinovac dari Tiongkok, Kimia Farma dengan G42 dari Uni Emirat Arab, dan Kalbe Farma dengan Genexine dari Korea Selatan.

Bahkan, terdapat forty nine,9 persen dari complete 601 responden menolak untuk menjadi penerima vaksin Covid-19 pertama. Selain itu, riset Ipsos Mori menunjukkan, pengguna YouTube dan Facebook yang percaya konten konspirasi corona lebih banyak ketimbang media sosial lain. Berdasarkan survei per Mei lalu itu, 30% pengguna web Bola Online di Inggris percaya bahwa virus corona berasal dari laboratorium.